Berita Bangkalan

Investor Asing Mulai Dilirik, Bangkalan Dihadapkan pada Tantangan Lahan, Infrastruktur dan SDM Lokal

2231
×

Investor Asing Mulai Dilirik, Bangkalan Dihadapkan pada Tantangan Lahan, Infrastruktur dan SDM Lokal

Sebarkan artikel ini

Bangkalan, REALITA — Rencana masuknya investasi asing ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mulai membuka babak baru bagi arah perekonomian daerah. Pemerintah daerah tengah menjajaki pengembangan kawasan industri yang diproyeksikan mencapai sekitar 3.000 hektare.

Rencana tersebut dinilai berpotensi membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian lokal. Namun, di tengah besarnya peluang investasi, sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan, mulai dari kepastian lahan, pembangunan infrastruktur hingga kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan, Ismet Efendi, mengatakan pemerintah daerah masih melakukan penjajakan sejumlah wilayah yang dinilai potensial untuk pengembangan kawasan industri.

Beberapa lokasi yang masuk dalam opsi antara lain Kecamatan Kamal, Socah dan Klampis.

“Masih ada beberapa opsi, di tiga kecamatan, Kamal, Socah dan Klampis,” ujar Ismet, Jumat (18/9/2026).

Dalam rencana kerja sama dengan PT Wiraraja, perusahaan tersebut nantinya berperan dalam penyediaan kawasan atau lahan yang akan disewakan kepada perusahaan-perusahaan yang berminat menanamkan modal.

Menurut Ismet, minat investasi yang tengah dijajaki juga datang dari berbagai negara, mulai dari Tiongkok, kawasan Timur Tengah, Amerika hingga Eropa.

Pemkab Bangkalan menargetkan proses penyiapan lahan dapat dilakukan pada tahun ini. Jika tahapan tersebut berjalan sesuai rencana, pembangunan fasilitas industri diharapkan mulai dilaksanakan pada tahun berikutnya.

Tenaga Kerja Lokal Jadi Tantangan

Selain persoalan lahan dan infrastruktur, kesiapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian pemerintah daerah.

Pemkab Bangkalan menargetkan sekitar 70 hingga 80 persen tenaga kerja yang nantinya terserap oleh kawasan industri berasal dari masyarakat lokal.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan menyiapkan berbagai program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

“Tenaga lokal kita utamakan 70 sampai 80 persen. Nanti ada pelatihan-pelatihan,” kata Ismet.

Wakil Ketua DPRD Bangkalan, Efendi, mengatakan masuknya investasi merupakan momentum yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat perekonomian daerah.

Namun, menurutnya, keberadaan investasi harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan ketersediaan lahan sekaligus menciptakan kepastian dan kenyamanan bagi investor. Di sisi lain, kepentingan masyarakat yang terdampak pengembangan kawasan juga harus diperhatikan.

“Dampaknya bukan cuma kepada pemerintah Kabupaten Bangkalan, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ucapnya.

Efendi menyebut sejumlah lahan di wilayah Socah mulai dilakukan penjajakan, termasuk proses menuju pembebasan. Selain Socah, Kecamatan Kamal dan Klampis juga masih menjadi alternatif lokasi.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata bagaimana mendatangkan investor, melainkan memastikan masyarakat Bangkalan mampu mengambil bagian ketika investasi tersebut benar-benar terealisasi.

“Pelatihan keterampilan menjadi salah satu kunci. Khususnya mereka yang masih menganggur, perlu dipersiapkan sejak sekarang agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” ungkapnya.

Jangan Sampai Masyarakat Hanya Jadi Penonton

Pengamat Ekonomi Pembangunan dan Moneter Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Ris Yuwono Nugroho, mengingatkan agar pengembangan kawasan industri tidak berubah menjadi kawasan eksklusif yang terpisah dari kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

Menurutnya, investasi idealnya membentuk ekosistem ekonomi yang saling terhubung dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

“Jangan sampai kawasan itu tidak terkait dengan sekitarnya. Kawasan industri harus terkait dengan perekonomian di sekitar,” ucap Ris saat dihubungi melalui telepon seluler.

Ia menjelaskan, keterlibatan masyarakat tidak harus terbatas pada pekerjaan formal di perusahaan. Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja, jasa pendukung, bahan baku hingga berbagai layanan penunjang dapat menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut menikmati dampak ekonomi investasi.

UMKM juga dinilai memiliki peluang masuk dalam rantai pasok kawasan industri, antara lain melalui penyediaan katering, bahan baku, transportasi maupun berbagai jasa pendukung lainnya.

Perguruan tinggi pun dapat mengambil peran sejak tahap awal. UTM, sebagai salah satu perguruan tinggi di Madura, dapat memetakan kompetensi lulusan yang dibutuhkan industri sekaligus membangun kerja sama melalui program magang, penelitian, pengajaran dan hubungan bisnis.

Karena itu, Ris menilai sosialisasi mengenai rencana investasi dan kebutuhan tenaga kerja perlu dilakukan sebelum kawasan industri benar-benar beroperasi.

“Masyarakat harus mengetahui keterampilan apa yang akan dibutuhkan sehingga dapat mempersiapkan diri,” kata pria yang juga Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi UTM tersebut.

Dengan demikian, pembangunan kawasan industri di Bangkalan tidak hanya menjadi cerita mengenai masuknya modal dari luar daerah atau luar negeri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat lokal.

(Emha)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *