Berita Bangkalan

Lestarikan Tradisi Budaya Madura, Desa Daleman Gelar Kontestasi Layangan Bulan-Bulanan

1999
×

Lestarikan Tradisi Budaya Madura, Desa Daleman Gelar Kontestasi Layangan Bulan-Bulanan

Sebarkan artikel ini

Bangkalan, REALITA Langit Desa Daleman, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Sabtu (5/9/2026), tampak semarak. Ratusan layangan menghiasi udara, diiringi sorak-sorai warga yang memadati area persawahan. Suasana tersebut menjadi bagian dari Kontestasi Layangan Bulan-Bulanan, sebuah tradisi budaya yang terus dijaga dan dilestarikan masyarakat Madura.

Kegiatan yang digelar di tengah musim kemarau itu mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Lebih dari 200 peserta dari Kecamatan Galis dan wilayah sekitarnya turut ambil bagian, sementara ratusan warga datang untuk menyaksikan langsung keunikan layangan khas tersebut.

Layangan Bulan-Bulanan memiliki ciri khas berbentuk lingkaran menyerupai bulan purnama. Selain bentuknya yang unik, layangan ini juga dikenal menghasilkan suara dengungan khas atau gubahan yang berasal dari daun siwalan maupun pita plastik yang dipasang pada bagian tertentu layangan.

Dalam kontestasi tersebut, peserta tidak hanya dituntut mampu menerbangkan layangan dalam waktu lama. Kestabilan di udara, keseimbangan gerakan, hingga kualitas suara yang dihasilkan menjadi bagian dari penilaian.

Kepala Desa Daleman, Muhammad Morib, mengatakan kegiatan tersebut bukan semata-mata perlombaan untuk memperebutkan hadiah. Menurutnya, kontestasi layangan juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan gotong royong masyarakat lintas generasi.

“Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi yang menyatukan pemuda hingga tokoh masyarakat, sekaligus upaya bersama menjaga warisan kebudayaan lokal agar tidak tergerus oleh zaman,” ujar Muhammad Morib.

Sementara itu, Mohammad Zammil, selaku penyelenggara, berharap Kontestasi Layangan Bulan-Bulanan dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan pariwisata budaya Kabupaten Bangkalan, khususnya setiap memasuki musim kemarau.

Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Menurut Zammil, hasil kreativitas para pengrajin layangan lokal bahkan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Harga satu unit layangan Bulan-Bulanan disebut berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp3 juta, tergantung bentuk, ukuran, bahan, serta tingkat kerumitan pembuatannya.

“Hasil kreasi pengerajin layangan di sini memiliki nilai jual tinggi, berkisar antara Rp500.000 hingga Rp3.000.000 per unit. Selain itu, gelaran ini juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) di desa yang berjualan di sekitar lokasi,” jelas Mohammad Zammil.

Tidak hanya peserta dan pengrajin yang mendapatkan manfaat, keberadaan ratusan warga yang datang menyaksikan kontestasi juga turut menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Sejumlah pedagang memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajakan makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan pengunjung.

Kemeriahan semakin terasa ketika memasuki agenda pengumuman pemenang. Para peserta yang berhasil meraih juara mendapatkan hadiah utama berupa kambing.

Penyerahan hadiah dilakukan di kediaman Kepala Desa Daleman. Para pemenang bersama warga kemudian berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan sebagai penutup rangkaian kegiatan.

Kontestasi Layangan Bulan-Bulanan tersebut menjadi gambaran bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memainkan, dan ikut mempertahankan salah satu warisan budaya khas Madura agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Emha

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *