Surakarta, REALITA – Peringatan Tingalan Jumenengan atau satu tahun kenaikan takhta Sri Susuhunan Pakubuwono (SISKS) XIV Purubaya di Keraton Surakarta Hadiningrat berlangsung aman, tertib, dan lancar, Kamis (5/11/2026).
Adicara yang digelar di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri para sentana dalem, abdi dalem, pemerhati budaya, budayawan, serta sejumlah kerabat keraton dari berbagai daerah.
Sejak pagi, suasana kawasan keraton tampak ramai. Sejumlah karangan bunga ucapan selamat berjajar di sekitar lokasi kegiatan. Sementara itu, para abdi dalem terlihat sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapan dan tata cara pelaksanaan Tingalan Jumenengan.
Antusiasme juga terlihat dari para tamu undangan yang mulai berdatangan sejak pukul 07.00 WIB, meskipun acara dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB.
Berdasarkan keterangan panitia dan peserta yang ditemui di lokasi, jumlah tamu yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 500 orang. Sementara itu, apabila digabungkan dengan sentana dalem, abdi dalem, dan unsur undangan lainnya, total kehadiran diperkirakan mencapai 2.500 orang.
Lasmini, salah seorang peserta dari Paguyuban Kedhaton Mataram Agung, menyampaikan antusiasmenya mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan kebudayaan Jawa.
Ia menyebut sejumlah paguyuban turut memberikan dukungan, di antaranya Kedhaton Mataram Agung, Paguyuban Kolocokro, Paguyuban Tosan Aji, serta berbagai komunitas pemerhati budaya lainnya.
“Harapan kami, budaya tetap lestari dan semakin dikenal. Dukungan dari berbagai paguyuban dan masyarakat menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap warisan leluhur masih terjaga,” ungkapnya.
Turut hadir Pembina Kedhaton Mataram Agung, KGPH Adipati Panembahan Agung Benowo, yang disebut sebagai putra dalem SISKS PB XII. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa dan juga aktif berkesenian sebagai seniman wayang kulit.
Dukungan terhadap peringatan tersebut juga terlihat dari sejumlah pengusaha yang mengirimkan karangan bunga sebagai bentuk ucapan selamat atas peringatan Tingalan Jumenengan pertama SISKS PB XIV Purubaya.
Sementara itu, Endri, pemerhati budaya asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa kebudayaan merupakan akar dari peradaban dan identitas bangsa yang harus terus dijaga.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui wacana, tetapi perlu diwujudkan melalui keterlibatan nyata masyarakat dan berbagai komunitas budaya.
“Kebudayaan merupakan akar dari tatanan leluhur kita. Karena itu, kita berkewajiban menjaga dan melestarikannya agar generasi mendatang juga dapat mengenal dan merasakan warisan budaya tersebut,” tegas Endri.
Di tengah berlangsungnya kegiatan, sejumlah peserta juga menyinggung kondisi internal Keraton Surakarta yang dinilai masih memprihatinkan akibat konflik berkepanjangan.
Endri mengajak seluruh pemerhati budaya agar tidak terjebak dalam konflik internal yang justru berpotensi menghambat upaya pelestarian kebudayaan.
Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai kedudukan SISKS PB XIV Purubaya sebagai putra mahkota yang menurutnya telah ditunjuk oleh almarhum SISKS PB XIII.
Meski demikian, persoalan suksesi dan dinamika internal keraton tetap menjadi bagian yang perlu disikapi secara bijaksana dengan mengedepankan fakta, sejarah, serta penghormatan terhadap adat dan tradisi keraton.
Menutup keterangannya, para pemerhati budaya berharap seluruh elemen masyarakat dapat merapatkan barisan untuk menjaga warisan budaya Nusantara. Mereka juga mengajak semua pihak menghindari konflik dan mengutamakan suasana damai, tenteram, serta harmonis.
Pelestarian kebudayaan, menurut mereka, harus menjadi kepentingan bersama, bukan justru terseret dalam pertentangan yang dapat memecah belah masyarakat.
(Alfian)














