Berita Jawa Tengah

Pertemuan Dharma Wadah Ketuhanan di Yogyakarta, Perkuat Silaturahmi dan Pemahaman Taoisme

1536
×

Pertemuan Dharma Wadah Ketuhanan di Yogyakarta, Perkuat Silaturahmi dan Pemahaman Taoisme

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, REALITA – Yayasan Cakrawala Dharma Indonesia melalui Divisi Wadah Ketuhanan Jakarta menggelar kegiatan kebudayaan dan pendalaman filsafat Taoisme di pusat Kota Yogyakarta, Sabtu–Minggu (24–25 Oktober 2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi ruang pendalaman pengetahuan tentang filsafat Taoisme, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para pemerhati budaya, budayawan, dan praktisi spiritual.

Peserta berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Semarang, Bandung, Ambarawa, Salatiga, Kabupaten Semarang, Nganjuk, Grobogan, serta Yogyakarta. Yayasan Kedhaton Mataram Agung turut mengirimkan perwakilannya dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan Dharma ini mengangkat semangat cinta kasih, keterbukaan dalam mempelajari tradisi spiritual, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya dan pemikiran di Indonesia.

Pendalaman Filsafat dan Konsep Dasar Taoisme

Dalam sesi pemaparan materi, Lin Sheng Li, narasumber asal Surabaya, menjelaskan hakikat ajaran Taoisme sebagai tradisi filosofis, spiritual, dan keagamaan yang berasal dari Tiongkok.

Ia memaparkan bahwa Taoisme menekankan pentingnya menjalani kehidupan secara harmonis dan selaras dengan Tao, yakni prinsip mendasar yang dipahami sebagai landasan keteraturan alam semesta.

Dalam penjelasannya, Lin Sheng Li menguraikan sejumlah konsep utama Taoisme, meliputi Tao atau jalan, Wu-wei atau tindakan tanpa pemaksaan, Yin dan Yang sebagai prinsip keseimbangan, serta De yang berkaitan dengan kebajikan.

Konsep Wu-wei, misalnya, mengajarkan pentingnya bertindak secara wajar tanpa memaksakan kehendak secara berlebihan. Prinsip tersebut diibaratkan seperti air yang mampu menyesuaikan diri dengan bentuk wadahnya.

Sementara itu, konsep Yin dan Yang menggambarkan dua unsur yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membentuk keseimbangan. Adapun De menekankan penerapan nilai kebajikan melalui sikap sederhana, lembut, dan rendah hati.

Selain mendapatkan pemahaman secara teoritis, peserta juga diperkenalkan pada praktik spiritual, seperti meditasi, teknik pernapasan, dan qigong yang dikenal dalam tradisi Tiongkok. Materi mengenai Feng Shui serta pentingnya melepaskan keterikatan terhadap hal-hal duniawi juga menjadi bagian dari pembahasan.

Pada Minggu pagi, kegiatan diawali dengan ramah tamah dan sarapan vegetarian bersama untuk mempererat kebersamaan antarpeserta.

Menghubungkan Nilai Taoisme dengan Kearifan Lokal

Pendekatan penyampaian materi yang interaktif membuat peserta berkesempatan memahami ajaran Taoisme melalui diskusi dan pengenalan nilai-nilai yang memiliki kemiripan dengan sejumlah tradisi lokal, termasuk ajaran Kejawen yang berkembang di Jawa.

Panitia penyelenggara juga memfasilitasi kebutuhan peserta selama kegiatan, mulai dari transportasi, akomodasi penginapan, hingga konsumsi.

Noor Hayati, salah satu panitia, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan tertib dan lancar.

Apresiasi juga disampaikan Ki Tarno, budayawan asal Kota Semarang, yang mengaku memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada panitia penyelenggara. Kegiatan dua hari di Yogyakarta ini sungguh menambah pengetahuan dan pengalaman saya tentang filsafat Taoisme. Selama ini saya hanya mendengar dari media massa, tetapi hari ini bisa belajar langsung dari pakarnya,” ujar Ki Tarno.

Mendorong Kerukunan dan Persatuan Bangsa

Para pemerhati budaya yang hadir berharap kegiatan lintas budaya dan pemikiran spiritual semacam ini dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat persatuan serta membangun sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat.

Pengenalan terhadap berbagai tradisi filsafat dan pemahaman spiritual diharapkan dapat memperluas wawasan, mengurangi kecenderungan saling menghakimi, serta mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dalam menyikapi perbedaan.

Melalui kegiatan ini, para pelaku budaya diajak untuk memahami kehidupan dan alam semesta secara bijaksana, sekaligus menjaga kerukunan dan persatuan bangsa dengan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

(Red/Miko)

Example 300250
Editor: Emha
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *