Example floating
Example floating
Berita Surabaya

Kasus Pembacokan Dua Anggota PSHT Picu Aksi Massa, Koordinator Arus Bawah Tegaskan Bukan Konflik Antarorganisasi

1268
×

Kasus Pembacokan Dua Anggota PSHT Picu Aksi Massa, Koordinator Arus Bawah Tegaskan Bukan Konflik Antarorganisasi

Sebarkan artikel ini

Surabaya, REALITA – Kasus pembacokan yang menimpa Feri (25) dan Didik (28), dua anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), memicu aksi massa di Surabaya. Dalam beberapa hari setelah kejadian, sejumlah massa mendatangi kawasan Jalan Teuku Umar, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, sebagai bentuk tuntutan agar pelaku segera ditangkap.

Koordinator Komunitas Arus Bawah PSHT Jawa Timur, Bondan, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya memandang peristiwa tersebut sebagai persoalan yang melibatkan individu, bukan konflik antarorganisasi maupun antarkelompok masyarakat.

“Sebenarnya kami tidak ingin melakukan aksi karena ini merupakan persoalan pribadi dan pekerjaan. Tidak ada kaitannya dengan organisasi,” ujar Bondan, Minggu (2/8/2026).

Menurut Bondan, situasi mulai memanas setelah terjadi bentrokan pada Senin (27/7/2026) dini hari di kawasan Jalan Teuku Umar. Beredarnya sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan situasi di lokasi kejadian memicu berbagai reaksi di kalangan anggota PSHT di sejumlah daerah.

Ia menyebut, kekecewaan anggotanya telah disampaikan kepada pihak kepolisian. Fokus utama mereka, kata Bondan, adalah mendorong aparat penegak hukum segera menangkap seluruh pelaku yang diduga terlibat dalam aksi pembacokan tersebut.

“Yang kami lawan adalah tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum pelaku. Kami tidak ingin bermusuhan dengan suku, agama, ras, maupun organisasi lain karena hal itu justru bertentangan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Bondan juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada komunikasi resmi antara Komunitas Arus Bawah PSHT dengan kelompok M1R. Meski demikian, pihaknya menyatakan terbuka untuk melakukan dialog dan rekonsiliasi guna menjaga situasi tetap kondusif.

“Kami membuka pintu komunikasi selebar-lebarnya. Musuh kami bukan orang Madura, Ambon, Jawa, atau kelompok mana pun, melainkan tindakan premanisme. Kami mengajak semua pihak duduk bersama dan mendukung proses hukum agar seluruh pelaku segera ditangkap,” pungkasnya.

Kasus pembacokan tersebut saat ini masih dalam penanganan kepolisian. Aparat diharapkan dapat mengusut tuntas perkara tersebut serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif.

Makruf

Example 300250
Penulis: Makruf Editor: Emha
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *