Berita

Giat Budaya dan Doa Bersama Yayasan Kedhaton Mataram Agung di Semarang Berjalan Lancar

1574
×

Giat Budaya dan Doa Bersama Yayasan Kedhaton Mataram Agung di Semarang Berjalan Lancar

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, REALITA — Yayasan Kedhaton Mataram Agung (YKMA) Pusat sukses menyelenggarakan kegiatan budaya dan doa bersama untuk keselamatan alam semesta pada Minggu (6/9/2026). Bertempat di kawasan Jalan Kelud Raya, Kota Semarang, agenda ini dihadiri oleh jajaran pengurus, anggota, serta tokoh budaya dari berbagai daerah.

​Acara yang dirancang sebagai wadah silaturahmi antarbudayawan dan penghayat kepercayaan Jawa ini bertujuan mempererat persatuan dalam upaya pelestarian alam. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan doa bersama untuk para leluhur dan keselamatan bangsa.

​Selain doa bersama, susunan acara diisi dengan sambutan dari Ketua Panitia dan Ketua Umum, prosesi pemotongan tumpeng, serta penyematan pin YKMA kepada para pengurus secara simbolis. Suasana keakraban semakin terasa saat memasuki sesi ramah tamah dan makan bersama (kembul bujana). Seluruh peserta tampak mengenakan busana adat serbahitam lengkap dengan udeng, yang melambangkan identitas masyarakat berbudaya tinggi.

​Di sela-sela diskusi budaya, KRT Purwo Susongko (Kanjeng Resi Purwo Susongko) memaparkan pandangannya mengenai perkembangan budaya di Kota Semarang yang dinilainya makin maju berkat pluralitas masyarakatnya. Ia juga menjelaskan konsep ajaran Kapitayan serta makna Kasepuhan. Menurutnya, kasepuhan merupakan implemetasi dari kabuyutan—figur terhormat yang memiliki filosofi ‘sepuh’ sebagai pengayom masyarakat Jawa.

​Sementara itu, KRT Kokok Wahyudi, S.H., memaparkan ruang lingkup kerja serta visi-misi yayasan. Ia mengimbau seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk bergerak selaras dengan arahan pembina demi menciptakan iklim organisasi yang solid dan saling melengkapi.

​Menutup rangkaian pembicaraan, Ketua Umum YKMA menegaskan pentingnya aksi nyata dalam menjaga lingkungan hidup serta merawat situs-situs bersejarah yang terbengkalai. Menanggapi isu rencana proyek geothermal di Kabupaten Semarang, pihak yayasan mengajak masyarakat untuk mengedepankan konservasi dan menjaga kondusivitas wilayah.

​”Kegiatan ini bukan semata-mata seremoni, melainkan memiliki nilai budaya dan kepedulian lingkungan yang tinggi. Kita harus menjaga bumi melalui konservasi, bukan merusaknya, melainkan merawatnya,” tegasnya.

​Sejumlah tokoh dan tamu undangan yang turut hadir dalam giat ini antara lain KRT Purwo Susongko dari Tegal, Ibu Laksmini, Bopo Edy Wiranto (Sanggar Paweling Ungaran), Mas Lucky, Ki Sentun, RT Hendarto Widi Utomo, Ki Tarno, Mas Billy Pujianto, Pak Novianto, serta Mas Bayu. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan tertib dan lancar.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *