Surakarta, REALITA — Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kota Surakarta turut diwarnai pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta menghadirkan pertunjukan di Pendopo Gendhon Humardhani, Jalan Ir. Sutami No. 57, Kentingan, Jebres, Surakarta, Kamis (20/8/2026) malam.
Pertunjukan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB tersebut menghadirkan dalang sekaligus kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat, Ki KGPH Adipati Benowo, putra almarhum Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XII.
Ratusan penonton dari berbagai kalangan memadati lokasi pertunjukan. Sejumlah pegiat dan pemerhati budaya, perwakilan pemerintah daerah, rekan seniman pedalangan, kerabat Keraton Surakarta, hingga seniman kawakan Ki Sayoko Gondo Saputro turut hadir menyaksikan pagelaran tersebut.
Mengangkat Lakon Kresna Duta
Dalam pagelaran tersebut, Ki KGPH Adipati Benowo membawakan lakon “Kresna Duta”, yang mengisahkan perjalanan Sri Kresna sebagai utusan Pandawa ke Hastinapura.
Sri Kresna datang untuk menyampaikan tuntutan Pandawa agar hak mereka atas wilayah Amarta dikembalikan sebelum konflik besar Baratayuda pecah.
Lakon tersebut tidak hanya menyuguhkan kisah pewayangan, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual. Posisi Sri Kresna sebagai duta perdamaian menggambarkan upaya penyelesaian konflik melalui diplomasi sebelum akhirnya berhadapan dengan kekuatan yang memilih jalan kekerasan.
Pesan tersebut sejalan dengan falsafah Jawa “Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti”, yang mengandung makna bahwa kesombongan, kemurkaan, dan berbagai bentuk kejahatan pada akhirnya dapat ditundukkan oleh kebaikan serta keluhuran budi.
Meski membawa pesan filosofis yang kuat, pertunjukan dikemas secara komunikatif. Penyampaian Ki Benowo yang diselingi humor membuat suasana pagelaran tetap hidup dan mampu menghibur penonton hingga pertunjukan berakhir.
Wayang Kulit Terus Beradaptasi
Seniman budaya Ki Sayoko Gondo Saputro menilai wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya yang terus mengalami perkembangan. Menurutnya, penyesuaian diperlukan agar kesenian tradisional tersebut tetap dapat diterima oleh generasi masa kini tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Dengan semangat juang para pendahulu, kesenian wayang kulit saat ini telah memiliki beragam variasi agar tidak terasa monoton bagi penonton zaman sekarang,” ujar Ki Sayoko.
Sementara itu, tokoh budaya RA. Ambarwati Kencono Wungu mengapresiasi kiprah Ki KGPH Adipati Benowo dalam mempertahankan seni tradisi, khususnya pedalangan.
Menurutnya, pengalaman Ki Benowo tampil di berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara, termasuk Belanda, menjadi salah satu bentuk konsistensinya dalam memperkenalkan dan menjaga kebudayaan nasional.
Tidak hanya berkecimpung di dunia pedalangan, Ki Benowo juga disebut aktif dalam berbagai kegiatan sosial, penguatan UMKM, serta upaya menjaga nilai-nilai sejarah dan eksistensi Keraton Surakarta Hadiningrat.
Pagelaran “Kresna Duta” tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antara seni tradisi, nilai filosofi Jawa, dan semangat peringatan kemerdekaan, sehingga wayang kulit tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Alfian














