Berita Boyolali

Pertemuan Dharma Wadah Ketuhanan di Yogyakarta Berlangsung Khidmat dan Lancar

1921
×

Pertemuan Dharma Wadah Ketuhanan di Yogyakarta Berlangsung Khidmat dan Lancar

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, REALITA  – Yayasan Cakrawala Dharma Indonesia melalui divisi Wadah Ketuhanan Jakarta sukses menggelar kegiatan kebudayaan dan pendalaman filsafat Taoisme di kawasan pusat Kota Yogyakarta. Kegiatan sosial dan spiritual yang berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu (24–25 Oktober 2026), ini diikuti oleh puluhan pemerhati serta praktisi budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Tak kurang dari 90 peserta hadir memenuhi lokasi acara. Mereka merupakan perwakilan budayawan dan praktisi kebudayaan Nusantara yang berasal dari Semarang, Bandung, Ambarawa, Salatiga, Kabupaten Semarang, Nganjuk, Grobogan, hingga tuan rumah Yogyakarta. Salah satu lembaga yang turut mengirimkan utusannya adalah Yayasan Kedhaton Mataram Agung.

Perwakilan awak media nasional yang meliput lokasi menyampaikan bahwa agenda Dharma ini merupakan bentuk nyata cinta kasih serta wadah silaturahmi antar-pelaku budaya dan pencinta filsafat Taoisme yang kini kian berkembang di tanah air.
Mendasari Filsafat dan Pemahaman Taoisme

Dalam sesi materi, narasumber asal Surabaya, Lin Sheng Li, memaparkan secara komprehensif mengenai hakikat ajaran Taoisme. Ia menjelaskan bahwa Taoisme merupakan tradisi filosofis, spiritual, dan keagamaan asal Tiongkok yang menekankan pentingnya kehidupan yang harmonis dan selaras dengan Tao (prinsip utama pembentuk alam semesta).

Secara historis, ajaran yang dintis oleh Laozi (Lao Tse) pada abad ke-6 SM melalui kitab Daodejing (Tao Te Ching) ini berkembang dari aliran filsafat (Tao Jia) menjadi tradisi keagamaan yang terstruktur sejak Dinasti Han.
Lin Sheng Li menguraikan empat konsep inti dalam Taoisme:
Tao (Jalan): Kekuatan abadi dan alami yang menjadi sumber serta hukum alam semesta.

Wu-wei (Berbuat Tanpa Paksaan): Tindakan yang mengalir fleksibel mengikuti alur alamiah tanpa ambisi berlebih atau pemaksaan, ibarat air yang menyesuaikan bentuk wadahnya.
Yin dan Yang: Keseimbangan dua kekuatan yang saling melengkapi di alam (gelap-terang, pasif-aktif, lembut-keras).De (Kebajikan): Penerapan nilai Tao dalam keseharian melalui kesederhanaan, kelembutan, dan kerendahan hati.

Selain pemahaman teoritis, para peserta juga diajak memahami praktik latihan spiritual seperti meditasi, teknik pernapasan, serta qigong untuk menjaga energi vital tubuh. Disinggung pula pemanfaatan Feng Shui untuk menyelaraskan energi manusia dengan lingkungan, serta prinsip melepaskan keterikatan duniawi agar mampu menerima perubahan hidup secara lapang dada. Pada sesi Minggu pagi, kegiatan diawali dengan agenda ramah tamah dan makan pagi vegetarian bersama.

Pendekatan Kebudayaan Lokal dan Saling Menghormati
Metode pendekatan spiritual yang interaktif serta memiliki kemiripan nilai lokal—seperti ajaran Kejawen yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur—membuat para peserta merasa nyaman dan antusias menyerap materi yang disampaikan. Seluruh kebutuhan logistik peserta, mulai dari transportasi, akomodasi penginapan, hingga konsumsi, difasilitasi penuh oleh panitia penyelenggara.

Noor Hayati, salah satu panitia, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini dengan tertib. Tanggapan positif juga datang dari para peserta, salah satunya Ki Tarno, budayawan asal Kota Semarang.
“Saya sangat berterima kasih kepada panitia penyelenggara. Kegiatan dua hari di Yogyakarta ini sungguh menambah pengetahuan dan pengalaman saya tentang filsafat Taoisme. Selama ini saya hanya mendengar dari media massa, tetapi hari ini bisa belajar langsung dari pakarnya,” ujar Ki Tarno.

Para pemerhati budaya yang hadir berharap kegiatan lintas budaya dan pemikiran spiritual ini dapat terus memperkuat rasa persatuan. Mengenal ragam keilmuan filsafat dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa diharapkan dapat membendung sikap saling menghakimi serta mengikis dogma-dogma yang kaku.
Melalui kegiatan ini, para pelaku budaya diajak untuk belajar memahami alam semesta secara bijak serta terus menjaga kerukunan dan persatuan bangsa di bawah naungan Pancasila dan UUD 1945. (Red/Miko)

 

Editor/Sam*

 

Example 300250
Editor: Editor/Sam*
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *