PASURUAN, REALITA — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang dan sekitarnya belum sepenuhnya mereda hingga Senin (19/10/2026). Titik api masih tersebar di beberapa lokasi, seperti Gunung Ringgit, Putuk Lembu, Sawahan Kesek, dan Putuk Pulosari Ledug. Medan yang terjal, tiupan angin kencang, serta menyebarnya titik api menjadi tantangan berat bagi tim gabungan dan relawan yang bekerja siang-malam.
Dampak kebakaran kini langsung dirasakan warga di kaki gunung. Kebakaran hebat tersebut merusak jaringan pipa penyalur air bersih dari sumber-sumber pegunungan menuju pemukiman. Di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, misalnya, sekitar 5 kilometer jaringan pipa mengalami kerusakan fatal yang menyebabkan tak kurang dari 2.900 kepala keluarga (KK) mengalami krisis air bersih.
Merespons kondisi darurat tersebut, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur melalui gerakan PDI Perjuangan Peduli mengerahkan bantuan berupa 20 tangki air bersih serta mendistribusikannya secara bertahap sesuai kebutuhan warga dan kondisi medan.
Selain itu, sebanyak 200 relawan disiapkan melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan untuk membantu penanganan di kawasan Arjuno, Gunung Ringgit, Welirang, dan wilayah sekitarnya.
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sekaligus Ketua Komisi 4 DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi, menegaskan bahwa penanganan difokuskan pada kebutuhan paling mendesak warga.
”Warga sangat membutuhkan air bersih, maka air yang harus segera kita kirimkan. Sebanyak 20 tangki disiapkan secara bertahap karena medannya cukup berat. Bersama BAGUNA, 200 relawan juga diterjunkan mengikuti dinamika kebutuhan di lapangan,” ujar Andri, Senin (19/10/2026).
Andri menekankan bahwa aksi sosial ini murni atas dasar kemanusiaan tanpa melihat latar belakang politik.
”Masyarakat yang sedang tertimpa musibah tidak membutuhkan pidato, mereka butuh aksi nyata seperti air bersih dan bantuan tenaga. Bencana tidak mengenal pilihan politik, maka bantuan ini diberikan untuk siapa saja yang membutuhkan,” tegasnya.
Disiplin Gotong Royong dan Penyelamatan Ekosistem
Mengingat kondisi lapangan yang masih diwarnai angin kencang dan titik api yang membahayakan, Andri mengimbau seluruh relawan untuk selalu berkoordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, serta pengelola Tahura Raden Soerjo.
”Gotong royong harus dibarengi dengan disiplin. BAGUNA hadir untuk meringankan beban petugas dan masyarakat, bukan menambah masalah. Keselamatan relawan tetap yang utama,” imbaunya.
Aksi tanggap darurat ini, menurut Andri, juga merupakan penerjemahan dari pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar para kader menjadi “Pandu Ibu Pertiwi”—yakni aktif merawat lingkungan, menjaga sumber air, serta melindungi keanekaragaman hayati.
Kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang masuk dalam ekosistem Tahura Raden Soerjo merupakan daerah tangkapan air vital sekaligus habitat flora dan fauna dilindungi seperti lutung Jawa, macan tutul, Elang Jawa, dan rusa timor. Kebakaran yang merusak vegetasi ini dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem dan tata air secara luas.
Oleh karena itu, Andri menegaskan bahwa upaya penanganan tidak boleh berhenti saat api padam. Pemulihan jangka panjang harus segera dirancang.
”Langkah awal adalah menyelamatkan manusianya dan mendukung pemadaman api. Setelah situasi aman, kita harus bergotong royong merehabilitasi hutan, sumber air, dan ekosistem di dalamnya. Politik pada akhirnya harus berdampak nyata: membuat kehidupan rakyat menjadi lebih ringan,” pungkas Andri.
Semoga penataan dan penyuntingan teks berita ini sesuai dengan kebutuhan Anda! Jika ada bagian yang perlu disesuaikan kembali, silakan beri tahu saya.(Abi/sul)
Editor/Sam*














