Berita Bangkalan

UTM Kembangkan Pelet Sapi Berbasis Bahan Lokal, Biogas Jadi Penggerak Produksi

1329
×

UTM Kembangkan Pelet Sapi Berbasis Bahan Lokal, Biogas Jadi Penggerak Produksi

Sebarkan artikel ini

Bangkalan, REALITA – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan, Jawa Timur, terus mendorong kemandirian petani dan peternak di Pulau Madura melalui pengembangan inovasi pakan ternak berbentuk pelet berbasis bahan baku lokal.

Program yang mendapat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut menyasar sejumlah desa di empat kabupaten di Madura. Salah satunya Desa Rek-Kerek, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, Andrie Kisroh Sunyigono, mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada formulasi pakan, tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi energi yang tersedia di tingkat desa.

“Melalui program ini, kami melakukan pembinaan berupa bimbingan teknis secara langsung kepada peternak, sekaligus memberikan alat pelet modifikasi yang dapat digerakkan dengan memanfaatkan tenaga gas biogas. Jadi, energi yang tersedia di desa dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi pakan,” kata Andrie di Pamekasan, Rabu.

Menurut Andrie, pemanfaatan biogas untuk mengoperasikan mesin pelet menjadi bagian penting dari upaya membangun sistem peternakan yang lebih mandiri.

Terlebih, kondisi geografis Madura yang relatif kering dengan musim kemarau cukup panjang kerap berdampak terhadap ketersediaan hijauan pakan ternak.

“Pakan pelet dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu peternak menghadapi kondisi wilayah yang relatif kering, terutama ketika memasuki musim kemarau dan ketersediaan hijauan menurun,” ujarnya.

Dengan pakan yang dapat diproduksi dan disimpan, peternak memiliki alternatif sumber pakan yang lebih terukur ketika ketersediaan hijauan mengalami penurunan.

Manfaatkan Limbah Pertanian di Sekitar Desa

Salah satu fokus inovasi UTM adalah memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar masyarakat. Formulasi pakan antara lain terdiri dari 10 kilogram dedak padi, 7,5 kilogram tumpi, 2,5 kilogram jagung giling, 9 kilogram ampas tahu, 6 kilogram kulit singkong, 7,5 kilogram daun singkong, 7,5 kilogram janggel, serta 1 liter molases.

“Prinsipnya, kami berusaha memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di desa. Bahan-bahan tersebut tidak harus didatangkan dari luar daerah, tetapi dapat berasal dari hasil samping pertanian dan agroindustri yang ada di sekitar masyarakat,” tutur Andrie.

Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi pakan berbentuk pelet sehingga lebih mudah ditangani, disimpan, maupun diberikan kepada ternak.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena biaya pakan menjadi salah satu komponen utama dalam usaha peternakan.

Dengan mengoptimalkan bahan baku lokal, ketergantungan peternak terhadap pakan dari luar daerah diharapkan dapat ditekan. Di sisi lain, limbah atau hasil samping pertanian yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah dapat memperoleh nilai tambah.

“Campuran bahan ini diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi, sehingga bukan sekadar mencampurkan bahan, tetapi memperhatikan kebutuhan pakan ternak secara ilmiah dan terukur,” jelasnya.

Dari Kotoran Ternak Jadi Energi dan Pupuk

Inovasi UTM tidak berhenti pada pengembangan pakan pelet. Tim juga mendorong pemanfaatan bioslurry, yakni hasil samping proses produksi biogas, untuk diolah menjadi kompos.

Konsep tersebut membuat kotoran ternak tidak sekadar menjadi limbah. Kotoran dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas untuk menghasilkan energi, sementara residu atau bioslurry dapat dikembalikan ke sektor pertanian sebagai bahan pembenah tanah dan pupuk organik.

“Dengan cara ini, kami ingin menunjukkan bahwa peternakan dapat dikembangkan dalam sistem yang lebih terintegrasi. Limbah ternak dapat menghasilkan energi, energi dapat digunakan untuk mendukung produksi pakan, sedangkan residu biogas dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian,” kata Andrie.

Model tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular.

Melalui konsep itu, sumber daya yang tersedia di desa diupayakan terus berputar dan memberikan manfaat, mulai dari kotoran ternak yang menghasilkan biogas, energi biogas yang mendukung produksi pakan, hingga bioslurry yang kembali dimanfaatkan untuk pertanian.

Jika model tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan, inovasi UTM berpotensi tidak hanya membantu menghadapi persoalan ketersediaan pakan saat musim kemarau, tetapi juga membuka peluang bagi peternak untuk mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal.

Emha

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *