Bangkalan, REALITA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan diminta terus dievaluasi. Pemerintah daerah menyoroti sejumlah aspek penting, mulai dari tata kelola, penerapan standar operasional prosedur (SOP), keamanan pangan hingga pemenuhan standar gizi bagi penerima manfaat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Bangkalan, M. Fauzan Ja’far, dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Himpunan Mitra Dapur (HMD) Gerakan Masyarakat untuk Generasi Emas (GEMAS) bersama mitra dapur dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Bangkalan.
Forum tersebut turut dihadiri Kepala Pelayanan Pemenuhan Gizi Jawa Timur, Kusmiyanti, Satgas SPPG Bangkalan, serta sejumlah mitra dan pengelola SPPG.
Fauzan mengapresiasi pelaksanaan FGD tersebut sebagai ruang untuk melakukan evaluasi dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang masih dihadapi dalam pelaksanaan MBG.
Menurutnya, keamanan makanan harus menjadi perhatian utama. Ia menegaskan agar persoalan yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
“Program MBG di Bangkalan sudah tidak boleh lagi ada penerima manfaat yang keracunan. Kendala-kendala yang selama ini dihadapi harus segera dicarikan solusi,” tegas Fauzan.
Ia juga menekankan pentingnya seluruh pengelola SPPG mematuhi SOP yang telah ditetapkan. Selain keamanan pangan, kualitas makanan dan kecukupan gizi bagi anak penerima manfaat juga harus menjadi perhatian serius.
Sementara itu, Ketua HMD-GEMAS menyampaikan bahwa FGD tersebut menjadi salah satu forum evaluasi yang membahas standardisasi pengelolaan dapur, SOP, pemenuhan gizi hingga keamanan pangan.
Perwakilan KPPG Jawa Timur turut memberikan penjelasan mengenai SOP yang wajib diterapkan dalam pengelolaan SPPG.
Salah seorang pengelola dapur menyebut evaluasi diperlukan agar berbagai kekurangan dapat segera diperbaiki dan persoalan yang sama tidak kembali terjadi.
Di Kabupaten Bangkalan sendiri tercatat sekitar 131 mitra, dengan sebagian di antaranya mengelola lebih dari satu dapur SPPG. Namun, tidak seluruh mitra hadir dalam forum tersebut.
Sekretaris HMD-GEMAS sekaligus mitra SPPG, Subaidi, menegaskan bahwa aspek mutu gizi tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaan MBG.
“Harapannya dengan MBG ini dampaknya bermanfaat bagi penerima manfaat agar pertumbuhannya baik, kecerdasannya meningkat, karena asupan vitaminnya baik. Jadi itu harus dijaga,” katanya.
Evaluasi tersebut menjadi penting mengingat program MBG menyasar kelompok penerima manfaat yang membutuhkan jaminan makanan aman, layak, dan memenuhi kebutuhan gizi. Karena itu, kepatuhan terhadap SOP dan pengawasan terhadap setiap tahapan penyediaan makanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan program di lapangan.
Emha














