Gerokgak, REALITA — Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) resmi menjalin kerja sama penguatan fungsi kawasan bersama PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung (PT WLBA). Program ini turut didukung lembaga donor asal Eropa melalui Yayasan Royal Nusantara Agung (RNA). Senin, (10/08/26).
Langkah awal sinergi konservasi ini ditandai dengan aksi penanaman ribuan bibit pohon mangrove di atas lahan seluas 19 hektar yang rawan abrasi, tepatnya di kawasan Teluk Trima, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Komitmen PT WLBA bersama Yayasan RNA tidak berhenti pada aksi seremonial semata. Pihaknya siap menanggung seluruh pembiayaan, mulai dari tahap penanaman, perawatan, hingga penjagaan rutin selama tiga tahun ke depan hingga kawasan tersebut tumbuh menjadi hutan mangrove yang mandiri.
Plt. Kepala Balai TNBB, Adang Bayu Pamungkas, S.Hut., M.Sc., menekankan krusialnya upaya konservasi mangrove dalam memelihara keseimbangan ekosistem pesisir.
“Mangrove memiliki peran vital dalam menanggulangi abrasi, meminimalisir dampak ancaman tsunami, menyerap emisi \text{CO}_2 untuk melawan perubahan iklim, serta menyaring limbah demi menjaga kualitas air laut. Lebih dari 80% spesies laut tropis sangat bergantung pada ekosistem ini sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pembesaran (nursery ground), dan pemenuhan nutrisi (feeding ground),” papar Adang.
Kegiatan perdana tersebut berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri sekitar 600 tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat. Tampak hadir jajaran pejabat pemerintah, tokoh adat dan agama, perwakilan kelompok subak, nelayan, kelompok pemuda, pelajar, mahasiswa, pendidik, serta puluhan pengurus dari belasan yayasan budaya dan pencinta alam. Acara diawali dengan ritual doa mepiuning yang diiringi oleh tarian dan gamelan tradisional Bali sebelum penanaman bibit dimulai.
Rencana Program Lanjutan: Kembalikan Banteng ke TNBB Selain aksi pemulihan ekosistem pesisir, PT WLBA mengungkapkan rencana jangka panjang untuk mengembalikan populasi Banteng (Bos javanicus) ke habitat alaminya di Bali Barat. Direktur Utama PT WLBA, Raden Ayu Ambarwati Kenconowungu, menjelaskan bahwa banteng dahulu menjadi salah satu satwa ikonik di TNBB bersanding dengan Menjangan, Lutung, dan Jalak Bali (Curik Bali). Namun, sejak tahun 2007, keberadaan satwa pemamah biak ini tak lagi ditemukan hingga dinyatakan lokal punah (extirpated) di kawasan tersebut.
“Kami berencana memulihkan ekosistem satwa dengan mendatangkan kembali spesies banteng yang memiliki kekerabatan terdekat dari wilayah konservasi di Pulau Jawa. Mekanisme dan pembangunan suaka (sanctuary) banteng ini nantinya akan sepenuhnya mengikuti arahan teknis dari Kepala Balai serta staf TNBB, sesuai dengan prosedur dan regulasi hukum yang berlaku,” tegas Ambar.
Dukungan terhadap program jangka panjang ini juga datang dari jejaring internasional. Mr. Alex Lemancel, warga negara Prancis yang bertindak sebagai penghubung internasional Yayasan RNA dan PT WLBA, menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh berbagai program penguatan fungsi kawasan TNBB.
Dukungan tersebut mencakup:
Pemulihan Ekosistem & Perlindungan Satwa: Pengembalian banteng dan perlindungan spesies langka.
Infrastruktur Konservasi: Pembangunan instalasi air bersih dan dermaga penyeberangan khusus kegiatan konservasi.
Pengelolaan Lingkungan: Pengolahan serta manajemen sampah yang terpadu.
Alex mengungkapkan bahwa dedikasinya untuk Bali dan Indonesia didasari rasa cintanya pada kelestarian alam setempat. Pihaknya juga berupaya menjajaki kemitraan strategis dengan Prince Albert II of Monaco Foundation guna mendukung keberlanjutan program-program lingkungan di kawasan Bali Barat.
Alfian















