Bangkalan, REALITA – Dugaan kasus keracunan yang diduga berawal dari konsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, terus diselidiki. Berbagai langkah cepat telah dilakukan oleh pihak berwenang untuk mencari tahu penyebab pasti kejadian tersebut.
Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, memaparkan bahwa tim gabungan yang terdiri dari Satgas, Dinas Kesehatan, serta pihak Puskesmas telah turun langsung ke lapangan.
“Tim surveilans kami dari satgas, Dinkes, dan puskesmas sudah melaksanakan pendataan dan wawancara. Dari KPPG Surabaya juga sudah turun mengambil sampel makanan untuk diuji, guna memastikan apakah makanan tersebut beracun atau tidak. Saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratoriumnya,” ujarnya.
Untuk menjamin keakuratan data, pengujian sampel makanan tidak dilakukan sembarangan. Proses laboratorium dilaksanakan di fasilitas yang sudah terakreditasi yang berlokasi di Surabaya.
“Uji lab-nya di Surabaya, yang berakreditasi. Yang lain belum tentu menjamin akreditasinya,” katanya.
Meskipun demikian, hingga berita ini diturunkan, hasil analisis laboratorium tersebut masih belum dapat dirilis. Terkait detail nama laboratorium, Bambang mengaku hal itu merupakan kewenangan instansi lain.
“Itu tugasnya KPPG Jawa Timur, bukan tugas kami tim satgas,” imbuhnya.
Dalam penanganan kasus ini, Bambang menegaskan bahwa pihaknya hanya bertugas melakukan investigasi dan pelaporan. Ia menyoroti batasan kewenangan yang dimiliki timnya dalam hal penegakan hukum atau pemberian sanksi.
“Kami tim satgas tidak diberi wewenang untuk memberikan punishment atau sanksi oleh BGN. Namun, kewajiban kami adalah melaporkan setiap kejadian seperti ini agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak berwenang,” tegasnya.
Sampai saat ini, masyarakat masih menanti kepastian hasil uji lab untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi penyebab timbulnya keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG tersebut.
eMHa















