Example floating
Example floating
Berita Semarang

Yayasan Kedhaton Mataram Agung Resmi Lahir di Kota Semarang, Bawa Misi Pemersatu Budaya Nusantara

931
×

Yayasan Kedhaton Mataram Agung Resmi Lahir di Kota Semarang, Bawa Misi Pemersatu Budaya Nusantara

Sebarkan artikel ini

Semarang, REALITA – Kota Semarang kembali mencatat kiprah baru dalam pelestarian kebudayaan. Yayasan Kedhaton Mataram Agung resmi berdiri secara legal di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Yayasan yang digagas para pemerhati, pegiat, pelaku seni, serta lintas budaya tersebut diharapkan menjadi wadah untuk menjaga, mengembangkan, sekaligus memperkuat kebudayaan Nusantara, khususnya budaya Jawa.

Pendirian Yayasan Kedhaton Mataram Agung dinilai relevan dengan karakter Kota Semarang sebagai daerah yang memiliki masyarakat majemuk dengan keberagaman budaya dan keyakinan. Semangat toleransi tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun ruang kebudayaan yang inklusif dan mampu mempertemukan berbagai elemen masyarakat.

Para pendiri yayasan disebut telah berkecimpung selama puluhan tahun dalam dunia seni dan kebudayaan, baik di Jawa Tengah maupun tingkat Nusantara. Kehadiran yayasan ini menjadi bagian dari upaya mereka untuk meneruskan amanat leluhur melalui pelestarian kebudayaan.

Kebudayaan adalah identitas suatu bangsa yang wajib kita jaga dan lestarikan selama hayat masih dikandung badan. Dengan berdirinya Yayasan Kedhaton Mataram Agung, kami ingin mengabdi kepada bumi Pertiwi dan ikut menjaga warisan leluhur Nusantara,” demikian disampaikan pihak yayasan.

Yayasan tersebut didirikan oleh salah satu putra dalem SISKS PB XII Keraton Surakarta yang dikenal sebagai pemerhati budaya Jawa. Dalam pendiriannya, ia didukung sejumlah pemerhati budaya di Kota Semarang.

Nama-nama yang tercatat dalam akta pendirian yayasan antara lain R.A. Ambarwati Kencono Wungu, R.M. Miko Alfian Yulianto, KRT. Kokok Wahyudi, SH, RT. Hendarto Widi Utomo, SE, Pujianto, Sutarno, Bambang Rochmani, Oke Dwi Astuti, serta Farell Maynard Simanjuntak.

R.M. Miko Alfian Yulianto menilai Kota Semarang merupakan lokasi yang strategis bagi pengembangan organisasi kebudayaan karena memiliki keberagaman masyarakat serta tradisi budaya yang hidup berdampingan.

“Mengingat budaya Kota Semarang sangat majemuk dan penuh toleransi, sangat layak apabila yayasan budaya ini berdiri dan berkedudukan di pusat ibu kota Provinsi Jawa Tengah,” tegas Alfian.

Sementara itu, R.A. Ambarwati Kencono Wungu mengatakan, Yayasan Kedhaton Mataram Agung diharapkan tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya Jawa, tetapi juga berkembang sebagai ruang pemersatu berbagai kebudayaan di Nusantara.

“Harapan kami, kebudayaan Jawa yang dipelopori Yayasan Kedhaton Mataram Agung dapat menjadi wadah pemersatu budaya se-Nusantara pada umumnya dan Jawa Tengah pada khususnya. Kami berterima kasih kepada seluruh pendiri yang telah bersama-sama mengambil bagian dalam kancah budaya Nusantara,” ujarnya.

Menurut Ambarwati, yayasan tersebut telah resmi tercatat secara legalitas dengan nomor AHU-0017765.AH.01.04 Tahun 2026 dan berkedudukan di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Di sisi lain, R.T. Hendarto Widi Utomo, SE menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari jati diri bangsa dan kehidupan bernegara.

“Kebudayaan adalah jati diri bangsa yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Seluruh insan budaya hendaknya taat dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku agar tercipta suasana yang kondusif, seimbang, dan selaras,” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh insan budaya untuk memperkuat silaturahmi dan persaudaraan di tengah keberagaman budaya yang berkembang di Indonesia.

“Mari kita saling bergandengan tangan dalam menjaga tali silaturahmi dan rasa persaudaraan sesama insan budaya yang lahir di Nusantara,” pungkasnya.

Dengan berdirinya Yayasan Kedhaton Mataram Agung, para pendiri berharap organisasi tersebut mampu menjadi salah satu ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, pemerhati sejarah, serta generasi muda untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Nusantara di tengah perkembangan zaman.

Alfian

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *