Bangkalan, REALITA – Kekhawatiran muncul di kalangan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Dusun Mur Rompeng, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, menyusul konflik antara dua pihak relawan yang disebut nyaris berujung kontak fisik.
Hingga kini, kedua belah pihak dikabarkan belum mencapai kesepakatan perdamaian. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya konflik susulan yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan lingkungan kerja.
Kekhawatiran semakin menguat lantaran adanya perbedaan kondisi setelah konflik terjadi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu pihak disebut telah dikeluarkan dari lingkungan dapur SPPG. Sementara itu, pihak lainnya masih terlihat keluar masuk area dapur dengan alasan membantu pekerjaan.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan relawan mengenai kebijakan pengelola dalam menjaga keamanan serta memastikan aturan diterapkan secara konsisten terhadap pihak-pihak yang terlibat perselisihan.
Sejumlah relawan mengaku khawatir apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan melalui langkah yang tepat. Terlebih, belum adanya kesepakatan damai dinilai dapat menyisakan ketegangan di antara kedua belah pihak.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya persoalan yang sudah terjadi, tetapi kemungkinan munculnya konflik susulan. Sampai sekarang, kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan perdamaian. Karena itu, kami berharap pengelola benar-benar memperhatikan situasi ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap seorang relawan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurutnya, lingkungan dapur SPPG semestinya menjadi tempat kerja yang aman dan kondusif bagi seluruh relawan. Karena itu, setiap potensi konflik perlu ditangani secara serius agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Para relawan berharap pengelola SPPG di Dusun Mur Rompeng segera mengambil langkah antisipatif, mulai dari mengevaluasi konflik yang terjadi, memperjelas status pihak-pihak yang terlibat, hingga memastikan penerapan aturan keluar masuk area dapur berjalan secara konsisten.
Selain itu, mediasi yang melibatkan kedua belah pihak dinilai penting untuk mencegah persoalan semakin meluas. Penyelesaian secara terbuka, adil, dan terukur diharapkan dapat memulihkan situasi serta memberikan rasa aman bagi para relawan yang masih menjalankan aktivitas pelayanan.
Persoalan ini juga menjadi perhatian terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan kerja yang tidak hanya berfokus pada kelancaran operasional dan pemenuhan standar pelayanan gizi, tetapi juga memperhatikan keamanan, kedisiplinan, serta kenyamanan para relawan.
Aldi Ahmad Prananda Belum Berikan Tanggapan
Hingga berita ini disusun, keterangan resmi dari pihak pengelola SPPG di Dusun Mur Rompeng, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, mengenai kebijakan terhadap kedua relawan yang terlibat konflik belum diperoleh.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Aldi Ahmad Prananda melalui pesan WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai persoalan tersebut, termasuk status relawan yang terlibat konflik dan alasan salah satu pihak disebut masih diperbolehkan keluar masuk area dapur SPPG.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, Aldi Ahmad Prananda belum memberikan tanggapan atas pesan konfirmasi tersebut.
Para relawan berharap pengelola segera mengambil langkah konkret guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik susulan. Mereka juga berharap adanya kejelasan kebijakan dan upaya penyelesaian yang dapat menjamin keamanan serta menjaga aktivitas pelayanan di dapur SPPG tetap kondusif.
REALITA tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Aldi Ahmad Prananda maupun pihak pengelola SPPG agar pemberitaan ini tetap berimbang dan memberikan gambaran yang utuh mengenai persoalan yang terjadi.
eMHa














