Bangkalan, REALITA – Di lereng Bukit Budur, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, terletak sebuah kompleks pemakaman yang tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah Dinasti Cakraningrat, namun juga menyimpan kisah mendalam tentang cinta, pengorbanan, dan kepercayaan yang hidup hingga kini – Makam Air Mata Ibu, atau yang kerap disebut masyarakat setempat sebagai Pasarean Aer Mata.
Tempat yang terletak sekitar 20 meter di atas permukaan laut ini bukan sekadar lokasi ziarah, melainkan perpaduan antara jejak sejarah kerajaan Madura abad ke-17 dan nilai spiritual yang mendalam. Pusat perhatian dari kompleks pemakaman ini adalah makam Ratu Ibu, yang memiliki nama asli Syarifah Ambani – seorang wanita yang berasal dari garis keturunan Sunan Giri, salah satu sosok penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa dan Madura. Sebagai istri Raden Praseno alias Cakraningrat I, penguasa Madura pada masa kejayaannya, Ratu Ibu dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan sangat disegani oleh rakyatnya.
Bersama Cakraningrat I, mereka dikaruniai tiga anak yang kelak menjadi tokoh penting: RA Atmojonegoro, Ri Undagan, dan Ratu Mertoparti. Pasangan ini dikenal sebagai pemimpin yang penuh kasih terhadap rakyat, namun tugas berat yang diemban sang suami seringkali membuatnya harus jauh dari Madura – salah satunya ketika membantu Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Keadaan itu membuat Ratu Ibu merasakan campuran antara kebanggaan atas prestasi suaminya dan kesedihan karena kerap berpisah.
Untuk mendukung suaminya dan memohon kesejahteraan bagi anak-anak serta rakyat Madura, Ratu Ibu sering menghabiskan waktu untuk bertapa di Desa Buduran. Dalam salah satu doanya, ia memohon agar anak-anak mereka dapat memimpin Madura hingga tujuh generasi ke depan. Namun, ketika hal itu diketahui Cakraningrat I, sang raja merasa tidak puas karena ia berharap seluruh garis keturunannya dapat memimpin selamanya. Terkejut dan merasa bersalah, Ratu Ibu kembali bertapa dengan hati yang penuh pilu, memohon ampun serta menyelaraskan doanya sesuai dengan keinginan sang suami.
Selama bertapa, ia terus menangis hingga akhirnya wafat. Kisah yang paling menginspirasi adalah keyakinan masyarakat bahwa air matanya yang mengalir tak pernah berhenti berubah menjadi sebuah sendang yang tak pernah kering. Sejak saat itu, mata air tersebut dikenal sebagai Air Mata Ibu, dipercaya memiliki khasiat keramat yang dapat membawa berkah dan kesembuhan bagi siapa saja yang meminumnya dengan niat yang tulus.
Kompleks pemakaman yang dibangun pada abad ke-17 ini menyimpan lebih dari sekadar makam Ratu Ibu. Di dalam lima cungkup yang ada, terdapat puluhan makam tokoh penting Dinasti Cakraningrat dan tokoh Madura lainnya, seperti Pangeran Cakraningrat II, PPA Cakraningrat, RA Moh Roslan Cakraningrat, Tumenggung Meloyo, hingga Kolonel Suryo Diningrat. Untuk mencapai area utama makam, pengunjung perlu menaiki sekitar 46 anak tangga yang seolah mengajak setiap orang untuk merenung sebelum memasuki kawasan suci ini.
Situs ini dapat dikunjungi kapan saja selama 24 jam tanpa dipungut biaya sepeser pun. Pengunjung hanya diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan, menjaga ketertiban, serta berperilaku sopan santun sebagai bentuk penghormatan terhadap kawasan bersejarah dan sakral ini.
Hingga hari ini, Makam Air Mata Ibu tetap menjadi destinasi wisata religi yang sangat diminati di Pulau Madura. Selain berziarah dan merenungkan sejarah panjang Dinasti Cakraningrat, setiap pengunjung juga dapat merasakan kedamaian yang mendalam serta mengambil hikmah tentang bakti kepada orang tersayang, kesabaran menghadapi cobaan, dan keikhlasan dalam setiap tindakan. Suasana yang tenang dan penuh kedamaian menjadikannya tempat yang sempurna untuk merenung dan menyegarkan jiwa.
eMHa















