Pasuruan, REALITA – Gelombang revolusi manajerial dan eksekusi event pariwisata baru saja dipancangkan di Bumi Pasuruan. Pasuruan Forest Fest 2026 yang mengguncang Wana Wisata Hutan Cempaka pada Sabtu, (04/04/26) menjadi bukti nyata bahwa Disbudpar Kabupaten Pasuruan telah melakukan lompatan besar.
Event ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah portofolio hidup bagaimana potensi wisata dikelola dengan presisi tinggi dan estetika yang kuat—menetapkan standar baru yang melampaui level regional.
Acara dimulai pukul 10.00 WIB dengan denyut ekonomi kreatif di Pasar Sruworejo. Di sini, revolusi konsep sangat terasa; Disbudpar berhasil mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat lokal ke dalam kemasan wisata belanja yang organik.
Pengunjung tidak hanya bertransaksi, tapi merasakan pengalaman psikologis “hutan sejak dan menenangkan fikiran usai aktivitas ” sejak langkah pertama.
Tak berselang lama, panggung utama menghadirkan sesi krusial: Lomba Local Hero Guide Destination. Di sinilah Disbudpar menunjukkan keunggulannya dalam pembinaan SDM.
Para peserta yang merupakan gabungan pelajar dan pegiat wisata lokal tampil sebagai storyteller yang andal secara profesional. Ini adalah bukti nyata bahwa Disbudpar melakukan revolusi pada kualitas pelayanan (hospitality) yang setara dengan destinasi nasional lainnya.
Memasuki siang hari, suasana semakin prestisius dengan penampilan Campursari Teras Langit yang menghadirkan bintang tamu nasional, Fanesha Anggi KDI. Kehadiran vokal berkelas nasional di tengah rimbunnya hutan Cempaka ini adalah langkah berani yang sukses menghipnotis penonton. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa Disbudpar mampu memadukan unsur tradisional dengan prestige industri hiburan nasional secara harmonis.
Momentum puncak yang emosional terjadi pada pukul 15.30 WIB melalui sesi Opening Seremonial & Awarding. Jauh dari kesan kaku, sesi ini menjadi ajang apresiasi talenta yang sangat prestisius.
Amelia Novianti Mamesah, siswi berbakat dari SMA Sejahtera Prigen, secara resmi dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Local Hero Guide Destination. Prestasi gemilang ini disusul oleh Nur Kholis yang mewakili Pokdarwis Kecamatan Prigen sebagai Juara 2, dan Lovely Azzahra Effendi dari SMKN 1 Prigen sebagai Juara 3.
usai awarding digelar Seminar Sadar Pariwisata yang menghadirkan tiga narasumber ahli untuk membedah strategi penguatan ekosistem wisata dari akar rumput.
Sesi ini menjadi ajang transfer pengetahuan mengenai pentingnya Sadar akan Potensi Pariwisata yang ada di Kabupaten Pasuruan kemudian standardisasi produk UMKM, mulai dari kepemilikan NIB, sertifikasi Halal, hingga kualitas pengemasan. Seminar ini menegaskan bahwa revolusi pariwisata tidak hanya soal keindahan fisik destinasi, tapi juga tentang kesiapan mental dan legalitas para pelaku usaha pendukungnya.
Agus Suyanto, SE, Pembina HIAS dan Wakil Ketua Komisi 2 DPRD, memberikan ulasan tajam mengenai dukungan regulasi.
“Pariwisata Pasuruan harus berbasis pada kekuatan ekonomi kreatif yang inklusif. Kita sedang mendorong integrasi antara UMKM dan destinasi wisata melalui kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil.
Dengan standardisasi produk dan storytelling yang kuat, produk lokal kita tidak hanya laku di pasar lokal, tapi memiliki nilai jual nasional,” tegas Agus Suyanto di hadapan para peserta.
Sesaat kemudian, suasana hutan semakin sinematik dengan penampilan Noe Coustic pada pukul 17.00 WIB. Pemilihan genre akustik di waktu transisi menuju senja adalah langkah jenius dalam manajemen mood acara. Alunan instrumen yang jernih dan vokal yang teduh mengalun bebas di antara tegakan pohon pinus, menciptakan harmoni yang sempurna antara manusia, musik, dan alam.
Sesi ini membuktikan bahwa tim kreatif Disbudpar memiliki kecermatan tinggi dalam menyusun kurasi penampil yang mampu menyesuaikan frekuensi lingkungan.
pukul 18.00 WIB, di lanjutkan revolusi edukasi berlanjut melalui Kelas Cita Rasa Kopi Pasuruan. Pengunjung diajak membedah anatomi rasa dari varietas Arabika, Robusta, hingga kopi langka seperti Liberika dan Exelsa yang tumbuh di lereng Gunung Arjuna. Edukasi teknis mengenai proses pasca-panen dipaparkan secara gamblang, memberikan nilai tambah luar biasa bagi wisatawan dan memposisikan kopi Pasuruan sebagai produk premium nasional.
Malam hari menjadi puncak emosional dengan penampilan Sendra Tari Monolog Pesona Hutan Indonesia. Pertunjukan ini menjadi “ruh” dari seluruh rangkaian acara, di mana seorang penampil dengan lantang meneriakkan pesan filosofis: “Inilah sumber kehidupan kita selama ini! Ingatlah, satu pohon, seribu napas!”.
Aksi teatrikal yang artistik ini berhasil menegaskan bahwa pariwisata Pasuruan memiliki narasi besar yang mampu menyatukan pesan kelestarian alam dengan keindahan seni pertunjukan.
Di sela-sela kekhidmatan acara, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Ibu Nurul Puspitaningrum, menekankan bahwa Pasuruan Forest Fest adalah purwarupa dari revolusi pariwisata yang berkelanjutan.
Beliau berharap kualitas eksekusi seperti ini menjadi standar baku bagi seluruh destinasi di Kabupaten Pasuruan, di mana alam, budaya, dan profesionalisme manajemen menyatu demi kesejahteraan masyarakat.
Sebagai penutup yang eksplosif, Perform Madame Whimpsy feat DJ Moheet mengubah ketenangan hutan menjadi arena gaya hidup modern yang trendi namun tetap terkontrol.
Pasuruan Forest Fest 2026 adalah simbol revolusi event yang dirancang dengan standar nasional.
Dari manajemen alur hingga kedalaman pesan di setiap sesi, Disbudpar telah menunjukkan benchmark bagaimana sebuah OPD seharusnya bekerja: visioner, profesional, dan mampu menciptakan dampak citra yang luar biasa bagi Kabupaten Pasuruan.(Abi/sul.
Editor/Sam*















