Example floating
Example floating
Berita Bangkalan

Museum Uang Perusnia Bangkalan: Benteng Sejarah yang Berjuang di Tengah Minimnya Atensi Pemerintah

10
×

Museum Uang Perusnia Bangkalan: Benteng Sejarah yang Berjuang di Tengah Minimnya Atensi Pemerintah

Sebarkan artikel ini

BANGKALAN, REALITA – Museum Uang Perusnia semakin mengukuhkan posisinya sebagai episentrum literasi sejarah dan numismatik paling prestisius di Pulau Madura. Hal ini tercermin dalam kunjungan edukatif puluhan siswa-siswi SD Negeri Pejagan 4 Bangkalan yang didampingi oleh guru pembimbing. Dessy Rimadhini Apritanti.

Kunjungan ini merupakan metode pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan IPAS. Fokus utamanya adalah membedah narasi sejarah masuknya peradaban Hindu-Budha di Indonesia serta melihat evolusi alat tukar secara autentik, mulai dari koin kerajaan kuno hingga mata uang Rupiah modern.

Ibu Dessy menegaskan bahwa belajar di luar kelas memberikan perspektif yang lebih konkret. “Dengan hadir langsung di Museum Uang Perusnia, siswa tidak hanya belajar dari teks, tetapi bisa melihat bukti autentik sejarah bangsa kita,” ungkapnya.

Koleksi yang Terus Bertransformasi
Di bawah kepemimpinan R.P. Salman Alrosyid Dungmoso, seorang bangsawan muda dari Keluarga Keratuan Sembilangan, museum ini berkembang pesat. Koleksi yang semula berjumlah 2.300 jenis kini telah meningkat menjadi 2.600 jenis.

“Kami berkomitmen melengkapi kepingan sejarah ekonomi nusantara. Penambahan terbaru mencakup koin perak masa Hindu-Budha dari Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga koin Kesultanan Palembang dan Aceh,” jelas Salman.

Keistimewaan museum ini kian berlipat berkat dukungan komunitas Kolektor Oeang Koeno (KOK) dan sumbangan artefak tak ternilai dari RM. Agus Suryoadikusumo. Artefak tersebut meliputi manuskrip lontar kuno hingga pusaka sakral seperti Keris Panji Anom milik Sultan Abdul Kadirun dan Keris Rojo Abolo Rojo milik Senopati Cakraaningrat I.

Meski memiliki koleksi yang luar biasa dan peran vital dalam pendidikan karakter generasi muda, keberadaan Museum Uang Perusnia dinilai masih berjalan “sendirian” tanpa dukungan signifikan dari pemerintah setempat.

Pengamat budaya dan aktivis sosial, Aruf Kenzo, memberikan kritik keras terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan yang dianggap menutup mata terhadap inisiatif pelestarian sejarah seperti ini.

“Sangat disayangkan, Museum Perusnia yang memiliki koleksi selengkap ini justru dikelola secara mandiri tanpa perhatian serius dari Pemerintah Bangkalan.

Pemerintah seharusnya hadir, minimal memberikan dukungan infrastruktur atau promosi yang terintegrasi,” ujar Aruf Kenzo.

Ia menambahkan bahwa jika pemerintah terus abai, aset sejarah ini berisiko sulit berkembang di masa depan.

“Jangan sampai pemerintah baru merasa memiliki ketika museum ini sudah besar di mata nasional. Saat ini, di saat pemilik museum berjuang menambah koleksi dan memberikan edukasi gratis kepada siswa, di mana peran Dinas Pendidikan atau Dinas Pariwisata kita? Mereka harusnya malu melihat inisiatif mandiri warga yang lebih progresif dibanding kebijakan daerah,” tegas Aruf.

Museum Uang Perusnia tetap konsisten menjalankan fungsinya sebagai benteng sejarah yang menjaga marwah budaya Madura, meski harus berjuang secara swadaya tanpa kucuran perhatian dari pemangku kebijakan daerah.

(Red)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *