Jonggol, Bogor, REALITA — Kondisi Jalan Desa Kampung Sawah, jalur perbatasan Desa Sirnagalih hingga kawasan bendungan di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, kian memprihatinkan. Jalan utama yang menjadi akses vital warga itu rusak parah, berlubang besar, dan dipenuhi genangan air, namun hingga kini belum juga mendapat penanganan serius dari pemerintah. Akses jalan ini adalah jalan penghubung dari antar desa, yaitu desa Sirnagalih, desa Bendungan dan desa Balekambang,(Kec. Jonggol) desa Sukadamai (Kec Sukamakmur) jadi melintasi 4 desa dua Kecamatan.

Pantauan di lapangan menunjukkan lubang-lubang dalam yang tertutup air hujan membentuk kubangan berbahaya. Kondisi ini kerap memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua, serta menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga sehari-hari.
“Setiap hari kami lewat sini, tapi rasanya seperti uji nyali. Jalan ini bukan rusak ringan, tapi hancur. Kalau hujan, lubang tertutup air, sangat berbahaya,” keluh salah seorang warga Kampung Sawah, Jum’at (30/01).

Ironisnya, jalan tersebut merupakan akses strategis penghubung antar desa dan jalur menuju bendungan, yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Namun realitas di lapangan justru memperlihatkan pembiaran berkepanjangan, seolah keselamatan warga bukan prioritas.
Warga menilai pemerintah terkesan lamban dan hanya reaktif setelah terjadi korban atau viral di media sosial.
“Kami sudah capek mengeluh. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak,” tegas warga lainnya.
Kerusakan jalan yang dibiarkan berlarut-larut ini memunculkan pertanyaan besar terkait komitmen pemerintah dalam pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah pinggiran seperti Jonggol.

Masyarakat Kampung Sawah dan Desa Sirnagalih mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor dan instansi terkait untuk segera turun tangan, melakukan perbaikan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam. Jalan yang layak bukan kemewahan, melainkan hak dasar warga.
Sehingga warga berinisiatif menanam pohon dilubang genangan air tersebut.
“Ini sebagai sindiran untuk para aparat pemerintah agar bisa terketuk hatinya dan sadar akan tanggung jawab nya.” Tambah salah seorang warga desa tersebut.
Jika kondisi ini terus diabaikan, publik berhak mempertanyakan: sampai kapan warga Jonggol harus bertaruh nyawa di jalan rusak?
(Firly)















