Pasuruan, REALITA – Alih-alih membawa solusi, proyek rehabilitasi pembangunan pintu air di wilayah Suwayuwo Wetan Embong yang di tangani oleh Propinsi Jawa Timur pada tahun 2025 lalu justru menjadi mimpi buruk bagi masyarakat setempat. Proyek yang seharusnya bertujuan untuk magatur air yang lebih baik ternyata menjadi biang keladi banjir yang merendam akses jalan dan pemukiman warga setiap kali hujan turun.

Kritik tajam pun bermunculan dari warga yang merasa menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang dinilai serampangan.Pemprov Jatim dan pihak terkait seolah kurang respon atas keluhan warga lantaran teknis pembangunan di lapangan justru menciptakan sumbatan baru yang mengubah fungsi sungai dari penampung air menjadi penampung genangan yang merugikan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Ust. Faruq,warga yang rumahnya berada tepat di bawah level jalan samping sungai. Beliau merasa sangat dirugikan karena posisi rumahnya kini menjadi titik mati pembuangan air. ”dulu sebelum di bangun, saluran air masih bisa terkendali, kini setiap kali hujan, rumah kami terancam tenggelam akibat konstruksi jalan dan pintu air yang tidak memperhitungkan dampak ketinggian pemukiman “jelasnya pada awak media pada Selasa ( 24/03/26)
Pihak Dinas terkait seolah menunjukkan arogansi dengan membiarkan pengerjaan proyek yang minim mitigasi risiko. Padahal, dampak dari banjir buatan ini bukan hanya soal genangan, melainkan ancaman kerusakan struktur bangunan rumah warga yang berada di posisi rendah, ancaman kesehatan, hingga kerugian materiil yang tidak sedikit.
Sangat ironis melihat anggaran negara yang digelontorkan untuk “perbaikan” justru digunakan untuk menciptakan kerusakan baru. Warga mempertanyakan kompetensi konsultan perencana dan pengawas proyek yang seolah-olah tidak memahami topografi dan debit air di wilayah tersebut. Apakah pembangunan ini hanya sekadar mengejar serapan anggaran tanpa memikirkan nasib warga yang rumahnya di bawah level jalan?
Kritikan pedas ini merupakan alarm keras bagi dinas teknis terkait. Jangan tunggu sampai amarah warga memuncak atau jatuh korban jiwa akibat kelalaian teknis ini. Proyek infrastruktur harus berfungsi sesuai hakikatnya bukan malah menenggelamkan rumah mereka.
Hingga berita ini di turunkan,wak media belum bisa mendapat konfirmasi dari pihak Dinas PU Sumberdaya air Propinsi jawa Jatim,(abi/sul)
Editor/Sam*















