Example floating
Example floating
Berita BangkalanKesehatan

Tren Kasus Baru HIV/AIDS di Bangkalan 3 Tahun Terakhir Cenderung Turun, Dinkes Ingatkan Bahaya Stigma dan Pentingnya Deteksi Dini

2642
×

Tren Kasus Baru HIV/AIDS di Bangkalan 3 Tahun Terakhir Cenderung Turun, Dinkes Ingatkan Bahaya Stigma dan Pentingnya Deteksi Dini

Sebarkan artikel ini

Bangkalan, REALITA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan mencatat total 235 orang terdiagnosis HIV/AIDS dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data ini menjadi pengingat kuat bagi masyarakat untuk tidak lengah dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya penyakit menular tersebut, meskipun tren angkanya menunjukkan perkembangan yang positif.

Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Nunuk Kristanti, menjelaskan bahwa jumlah kasus baru dalam tiga tahun terakhir tercatat fluktuatif namun secara umum cenderung menurun. Rinciannya, pada tahun 2023 terdapat 84 kasus, tahun 2024 sebanyak 85 kasus, dan pada tahun 2025 tercatat 66 kasus baru.

“Memang trennya menurun, akan tetapi juga perlu kesadaran bersama terkait bahayanya HIV,” ungkap Nunuk dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).

Lebih lanjut, Nunuk menyoroti profil mayoritas penyandang HIV/AIDS di Bangkalan yang didominasi oleh laki-laki usia produktif. Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat kelompok usia tersebut berada pada fase aktif dalam bekerja dan berinteraksi sosial.

Sebagai informasi, HIV adalah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel darah putih. Akibatnya, daya tahan tubuh penderita menurun drastis sehingga menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit lainnya. Penularan virus ini umumnya terjadi melalui interaksi yang memicu pertukaran cairan tubuh dari orang yang sudah terinfeksi.

“Penyebabnya bisa karena memakai alat suntik berulang, hubungan seks, atau aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan ya,” jelasnya.

Untuk menekan angka penularan dan mempercepat deteksi dini, Dinkes Bangkalan telah memperluas akses layanan kesehatan. Saat ini, layanan tes HIV sudah tersedia di dua rumah sakit dan 12 puskesmas yang tersebar di wilayah tersebut. Tidak hanya pemeriksaan, pemerintah daerah juga menjamin ketersediaan layanan terapi antiretroviral (ARV) bagi para penyandang HIV.

“Ada 14 yang bisa melayani terapi ARV di antaranya dua rumah sakit dan 12 puskesmas,” terangnya.

Nunuk menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS bukan hanya tanggung jawab pihak medis, melainkan memerlukan kesadaran kolektif dalam pencegahan maupun penanganannya. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah adanya stigma di masyarakat. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menghilangkan diskriminasi agar para penyandang tidak merasa dikucilkan.

“Kemudian HIV seharusnya bukan penyakit tabu di masyarakat. Banyaknya stigma di masyarakat dan masyarakat masih belum membuka diri untuk pemeriksaan HIV on the spot,” pungkasnya.

eMHa

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *