Pasuruan, REALITA – Masih adanya segelintir oknum LSM yang dalam tanda kutip dalam menjalankan fungsi terjadi kadang keluar dari semangat pengabdian dan keberpihakan pada kepentingan publik menjadi keprihatinan Anjar Supriyanto ketua LSM GP3H ( gerakan pemuda pemudi pengamat hukum )
Pria asal Watukosek Kecamatan Gempol menilai seharusnya mereka menjadi suara nurani masyarakat, pengawas kekuasaan, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam menjaga arah kebijakan pembangunan tidak keluar dari rel regulasi serta tetap berpihak pada keadilan sosial.
Namun fakta di lapangan ada saja oknum yang tidak sejalan dengan konsepnya “ada segelintir oknum yang justru menjadikan label LSM sebagai alat untuk mencari keuntungan pribadi ” tuturnya. Rabu (3/02/26)
Kritik yang di suarakan sejatinya bertujuan untuk memperbaiki,namun kadang kadang berubah menjadi tekanan. Pengawasan yang semestinya berbasis data dan kepedulian, bergeser menjadi alat tawar-menawar kepentingan
Mas Anjar menambahkan,fenomena umumnya lahir ketika sebagian oknum LSM lebih sibuk mencari celah kesalahan, dan mengabaikan tujuan utama yakni membenahi, melainkan untuk membenahi,Kritik tidak lagi lahir dari kajian yang objektif, tetapi dari kepentingan pragmatis.Independensi yang menjadi ruh utama LSM pun tergerus dan luntur
Ironisnya, dampak dari perilaku tersebut tidak hanya merugikan institusi atau pihak yang dikritik, tetapi juga mencederai marwah LSM itu sendiri. Kepercayaan publik runtuh. LSM yang bekerja jujur dan konsisten ikut menanggung stigma, meski tidak terlibat dalam praktik menyimpang tersebut.
Padahal, peran LSM sangat dibutuhkan dalam sistem demokrasi. Kritik yang sehat, berbasis data, dan disampaikan dengan etika adalah energi positif bagi perbaikan tata kelola pemerintahan.
Editor/Sam*















