Pasuruan, REALITA – Aliansi BEM Pasuruan Raya (BEMPAS) dan Aliansi BEM Probolinggo Raya (BEMPRO) menggelar Konsolidasi Akbar Jilid III dan Sarasehan di Asyiq Cafe, Probolinggo, pada Minggu (15/3/26), kegiatan para genarasi Bangsa ini menyikapi arah kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kian membahayakan posisi geopolitik Indonesia,
Konsolidasi ini secara tegas menyoroti keterlibatan aktif Indonesia dalam skema Board of Peace (BoP), penandatanganan perjanjian dagang RI-AS, hingga wacana pengiriman pasukan TNI ke Gaza di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
M Ubaidillah,Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, M menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton saat kedaulatan bangsa sedang dipertaruhkan di atas meja diplomasi internasional.
“Kita melihat hari ini bagaimana peta kekuatan global bergeser dan ketegangan kian meruncing. Langkah pemerintah melalui perjanjian dagang dengan AS dan keterlibatan dalam BoP bukanlah sebuah jalan tengah seperti yang diklaim, melainkan ancaman terseretnya Indonesia ke dalam pusaran konflik militer internasional,” jelasnya
narasi perdamaian tidak boleh dijadikan kedok untuk memuluskan kepentingan imperialisme Barat,Kita menolak segala bentuk kerja sama yang menjadikan Indonesia sekadar penyedia logistik atau alat geopolitik kekuatan asing yang justru menjauhkan kita dari prinsip kemerdekaan bagi segala bangsa.
Keterangan yang sama di sampaikan M Robius Zaman Koordinator Aliansi BEM Probolinggo Raya, M Robius Zaman,ia menyoroti dampak kebijakan global tersebut terhadap stabilitas dan kesejahteraan rakyat di daerah.
“Konsolidasi yang di gelar Hari ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa di daerah tidak buta terhadap politik luar negeri. Kebijakan elitis di pusat, seperti perjanjian dagang internasional, seringkali berujung pada investasi berdarah yang mengorbankan hak-hak buruh,petani di daerah. Jangan sampai ekonomi nasional dibangun di atas penderitaan rakyat akibat ketergantungan hegemoni Barat,” ungkap Azam
Ia juga menyerukan pentingnya merapatkan barisan lintas wilayah untuk mengawal isu ini. “Jika langkah diplomasi pemerintah justru membahayakan rakyat, mengkhianati amanat UUD 1945, dan diam terhadap kejahatan kemanusiaan di Gaza maupun ancaman perang kawasan, maka kami dari Probolinggo dan Pasuruan siap menjadi garda terdepan untuk melakukan aksi perlawanan.
Acara ditutup dengan pembacaan Pernyataan Sikap Bersama yakni menuntut pemerintah untuk segera membatalkan perjanjian dagang RI-AS yang merugikan, mengkaji ulang posisi Indonesia di BoP, dan mengecam keras segala bentuk agresi militer AS-Israel di Timur Tengah
Kedua aliansi BEM berkomitmen akan terus melipatgandakan kekuatan, memperkuat literasi politik di akar rumput, dan siap turun ke jalan jika suara kritis masyarakat sipil terus diabaikan oleh negara.(abi/sul)
Editor/Sam*













