Semarang, REALITA – Semangat melestarikan warisan leluhur mewarnai pelataran Mbah Genuk, kawasan bekas lokasi Exs Wonderia Kota Semarang, pada 11 Januari 2026. Di lokasi yang sarat nilai sejarah itu, para pemerhati budaya dari Semarang dan berbagai daerah di Jawa Tengah berkumpul dalam acara pembentukan Kedhaton Mataram Agung, sebuah wadah budaya yang diharapkan mampu mengembalikan jati diri dan nilai luhur peradaban Nusantara.
Acara bersejarah ini dihadiri oleh sekitar 70 orang pemerhati budaya, termasuk sejumlah tokoh dan budayawan terkemuka. Di antaranya adalah RM. Miko Alfian Y, RA. Ambarwati Kencono Wungu, KRT. Kokok Wahyudi SH, Ki Tarno Kolocokro, Ki Eko Pandan Lawu, Ki Togog selaku juru makam Mbah Genuk, serta para budayawan yang datang khusus dari Temanggung dan wilayah lainnya. Suasana berlangsung sangat meriah, penuh kebersamaan dan kekhidmatan dalam setiap rangkaian kegiatannya.
Dalam kesempatan tersebut, RM. Miko Alfian Y menjelaskan alasan utama dibentuknya organisasi ini, mengingat kondisi budaya dan tata krama yang dinilai semakin memudar tergerus arus zaman.
“Tujuan daripada dibentuknya Kedhaton Mataram Agung adalah untuk mengembalikan Marwah budaya Nusantara yang saat ini sudah tergerus oleh modernisasi zaman yang di mana adab dan sopan santun suatu peradaban sudah hilang,” ujar RM. Miko Alfian Y.
Struktur kepengurusan untuk wilayah Kota Semarang pun telah ditetapkan secara resmi. KRT. Kokok Wahyudi SH dipercaya menjabat sebagai Ketua, didampingi oleh Pujianto sebagai Bendahara, serta Widi dan Ibu Oke sebagai Sekretaris.
Pujianto selaku Bendahara menilai keberadaan Kedhaton Mataram Agung di Semarang memiliki makna strategis bagi kemajuan kebudayaan di Jawa Tengah. Ia berharap langkah ini menjadi titik balik bagi generasi penerus untuk kembali mencintai dan merawat peninggalan budaya.
“Sejarah berdirinya Kedhaton Mataram Agung di kota Semarang sangat penting untuk kemajuan budaya di Jawa Tengah, semua pemerhati budaya menyambut dengan positif dan penuh semangat kebersamaan, karena budaya saat ini sudah semakin ditinggalkan oleh karena itu kita sebagai generasi penerus hendaknya bangkit nguri – nguri peninggal para leluhur Jawa dan Nusantara,” ujar Pujianto.
Salah satu pemerhati budaya yang hadir dan bersedia memberikan keterangan dengan inisial A., menilai Semarang sebagai ibu kota provinsi merupakan lokasi yang paling tepat untuk menjadikan wadah ini sebagai pelopor kebangkitan budaya, mengingat posisi kota ini sebagai pusat kegiatan dan karakter masyarakatnya yang menjunjung keberagaman.
“Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang di mana semua kegiatan sosial, ekonomi dan budaya berpusat di Semarang, sangat tepat sekali jika kita Semarang menjadi pionir budaya, walaupun di kota-kota lain juga memiliki history budaya yang lebih melegenda. Kota Semarang sangat Pluralisme dalam segi apapun karena Masyarakatnya saling melengkapi dan menghargai perbedaan baik ras, golongan, suku, dan keyakinan,” ungkapnya.
Miko Alfian Y









