Example floating
Example floating
Berita Semarang

Harmoni Syawal: Halal Bi Halal Budaya di Gunungpati Semarang Gaungkan Persatuan dan Pelestarian Adat

2186
×

Harmoni Syawal: Halal Bi Halal Budaya di Gunungpati Semarang Gaungkan Persatuan dan Pelestarian Adat

Sebarkan artikel ini

Semarang, REALITA – Suasana bulan Syawal 1447 H masih terasa kental di Kota Semarang. Berbagai elemen masyarakat dan pemerhati budaya berkumpul di Kecamatan Gunung Pati pada hari Minggu, 12 April 2026, untuk menggelar acara Halal Bi Halal yang sarat makna kearifan lokal.

Kegiatan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan wadah untuk mempererat tali persaudaraan di mana seluruh hadirin saling memaafkan dan memohon doa keselamatan bersama.

Acara berlangsung dengan penuh khidmat, diawali dengan prosesi pemberkatan atau doa kesejukan menurut tradisi budaya Jawa. Doa ini dipimpin langsung oleh Mbah Demang Tarno, seorang spiritualis dan budayawan lokal yang mewakili Kasepuhan dari berbagai paguyuban spiritual di Semarang.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut tokoh budaya senior, KRT. Kokok Wahyudi, SH, selaku Ketua Harian Paguyuban Mataram Agung Kota Semarang.

Dalam sesi tausiyah yang disampaikan oleh Dr. Suratno Sukron, M.Pd., ditekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga keragaman (pluralisme) serta menghargai sesama tanpa membeda-bedakan asal-usul maupun agama.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa menjaga jati diri dan kepribadian bangsa harus dilakukan dengan cara terus melestarikan tradisi dan kebudayaan adat agar tidak punah.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh budaya ternama, antara lain Widi Utomo, Firman, Ki Togog Mbah Genuk, dan Ki Dalang Sentun Sunan Kuning.

Sementara itu, Pandu Setiawan dari Dekopin Kabupaten Semarang menyampaikan pemikiran strategis. Ia menyarankan agar paguyuban seni dan budaya dapat membentuk koperasi sebagai langkah konkret untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan.

Sayangnya, tokoh nasional yang diundang khusus, Samuel JD Watimena (Anggota Komisi VII DPR RI), tidak dapat hadir dikarenakan sedang melakukan kunjungan dinas ke Australia.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh dalang setempat, Ki H. Junarto Danuwijaya. Suasana semakin syahdu saat seluruh hadirin bersama-sama melantunkan kidung Jawa di bawah pimpinan Mbah Tarno Demang, mengakhiri pertemuan dengan kedamaian dan kebersamaan.

(Miko Alfian Y)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *