Pasuruan, REALITA – Impian tentang masyarakat yang modern, tertib, sehat, dan berkemakmuran sejatinya bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Ia adalah hasil dari proses panjang yang dimulai sejak usia paling dini, melalui pendidikan yang membentuk karakter, etika, disiplin, serta kesadaran hidup bersama. Pendidikan sejak dini bukan semata soal kemampuan akademik, melainkan penanaman nilai: keteraturan, tanggung jawab, kesehatan jiwa dan raga, serta kemampuan mengendalikan diri di tengah perubahan zaman.Selasa.(23/12/25).
Namun, cita-cita luhur tersebut hari ini menghadapi benturan keras dari realitas perkembangan teknologi yang tidak selalu tepat guna. Hadirnya teknologi digital—khususnya telepon genggam pintar—telah melampaui fungsi awalnya sebagai alat bantu komunikasi dan informasi. Di tangan anak-anak, si kecil pintar ini menjelma menjadi dunia tanpa batas: penuh hiburan, algoritma adiktif, dan arus informasi yang tidak tersaring oleh kedewasaan nalar.
Alih-alih menjadi sarana edukasi, teknologi sering justru mengambil alih peran pendidikan itu sendiri. Anak-anak belajar mengenal dunia bukan melalui proses sosial yang sehat, melainkan lewat layar; bukan melalui nilai dan keteladanan, melainkan lewat tren, sensasi, dan budaya instan. Pola hidup tertib menjadi kabur, disiplin melemah, interaksi sosial menurun, dan kesehatan mental maupun fisik perlahan tergerus.
Di sinilah ironi modernisasi muncul. Teknologi yang seharusnya menjadi alat penguat peradaban justru berpotensi menjadi momok kegagalan cita-cita hidup modern yang tertib dan sehat. Modernisasi tanpa kendali nilai hanya akan melahirkan generasi yang canggih secara teknologi, tetapi rapuh secara karakter. Mereka mungkin cepat mengakses dunia, namun lambat memahami tanggung jawab hidup.
Oleh karena itu, modernisasi sejati menuntut keseimbangan. Pendidikan sejak dini harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama, dengan teknologi diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran pendidikan dan pengasuhan. Literasi digital, pendampingan orang tua, keteladanan sosial, serta regulasi penggunaan teknologi menjadi keniscayaan, bukan pilihan.
Tanpa langkah sadar dan terarah, kita berisiko membangun masa depan yang maju secara alat, tetapi mundur secara nilai. Sebab masyarakat yang benar-benar modern bukan diukur dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari kemampuannya menata hidup secara tertib, sehat, beradab, dan berkelanjutan.
Analisis Lingkungan
Oleh _Anjar Supriyanto_















